Penulis: Peppy Suryani
Aku Ibu dari 2 orang anak. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu dan Ayah bercerai, aku dibesarkan oleh Nenek, kasih sayang yang nenek berikan tidak cukup membuatku bahagia, rasa sedih, rasa iri yang saya rasakan bisa melihat teman-teman yang bahagia melihat mereka yang mempunyai keluarga yang utuh.
Di usiaku 3 tahun Ibu kembali menikah. Aku merasa bahagia setelah mempunyai Ayah, tapi setelah mempunyai adik, aku merasa dibedakan karena Ayah baru ku selalu mementingkan adik-adikku dari mulai urusan sekolah, pakaian, uang jajan, semuanya berbeda. Sampai pada suatu hari aku sedang mengikuti ujian SMP dan orang tuaku memutuskan kembali bercerai.
Di saat aku sangat membutuhkan mereka, tapi mereka bercerai. Aku harus berjuang sendiri, sekolah sambil bekerja, menahan rasa ingin sesuatu. Karena tak punya uang, rasa iri tersebut selalu kurasakan, iri menginginkan memiliki keluarga, dan menginginkan memiliki cinta dan kasih sayang seperti mereka. Sampai akhirnya aku menikah dan kembali melahirkan seorang anak dan pernikahanku pun gagal kembali, rasa kecewaku datang, setelah perpisahan itu aku pun menikah kembali dan memiliki seorang putri yang kulahirkan di penjara, karena setelah 3 bulan pernikahan aku terpenjara. Di sini aku selalu bertanya apakah memang aku tidak ditakdirkan untuk bahagia, karena selalu berakhir kecewa, apakah aku ini kebahagiaan yang tertunda?