“Tuhan, Aku Lapar….”

Penulis: Nadya Amelia

Aku berlari sekuat tenaga sambil menggendong adik perempuanku yang baru berusia dua tahun. Untuk anak seusiaku, berlari menuju Puskesmas sekitar dua kilometer adalah hal yang sangat melelahkan. Apalagi, sejak pagi aku belum makan. Sekarang pukul lima sore. Sepulang sekolah, Pak Sugi, ketua RT, memberitahuku bahwa Ibu dibawa ke Puskesmas. Ayah meninggal dua bulan lalu karena tertular wabah virus Covid-19. Kini, Ibu pun tertular virus itu. Aku takut Ibu akan menyusul Ayah. Namun, aku tetap berlari sambil menggendong adikku, berharap segera sampai di Puskesmas. Aku cemas. Aku tidak sanggup membayangkan harus hidup berdua saja dengan adikku, sedangkan usiaku baru sebelas tahun.

Sesampainya di teras Puskesmas, aku terduduk lelah. Aku melihat Bu Sila, tetangga kami, menghampiri. Ia segera mengambil adikku dari gendonganku, lalu menuntunku ke sebuah kamar sambil berbisik, “Jaka, itu ibumu. Dekatlah, peluklah dia untuk yang terakhir kali!” Aku tertegun. Yang terbayang di kepalaku hanyalah adik kecilku, sekolahku, dan masa depanku. Dengan langkah gontai, aku memeluk tubuh yang sudah dibungkus rapat. Aku tahu, aku tidak akan bisa memeluknya lagi.

Seminggu telah berlalu sejak kepergian Ibu. Malam ini, aku duduk di kamar, memangku adikku yang tertidur lelap di pelukanku. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Aku hanya bisa menatap wajahnya yang tenang, seolah tidak mengerti dunia yang sedang runtuh di sekeliling kami. Perutku terasa perih, menandakan aku belum makan sejak siang tadi. Dalam hening, aku berbisik lirih, “Tuhan, aku lapar….”

 

Komentar
Silakan login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.