Penulis: Nuryani
Dalam kehidupan yang katanya hanya satu kali ini, secara nyata aku mulai menerima dan menyadari, bahwa hidupku berbeda, hidup yang kujalani ini tidak sama dengan orang di luar sana. Terkadang merasa sepi, terkadang tidak tahu arah, hingga rasanya tidak tersisa satu kalimat yang bisa mengungkapkannya. Adakah sisa-sisa kejujuran yang aku punya—setidaknya kejujuran untuk diri sendiri? Masih adakah sisa-sisa asa di luar sana yang bisa aku raih meski aku berada di balik jeruji?
Kehidupan yang berjalan di sini pada awalnya menyesakkan. Rasa penat, tidak terima, hingga amarah semua seolah bercokol menjadi satu di dalam kepala. Namun, lambat laun, perasaan itu melebur, terpecah bersamaan dengan kedisiplinan yang aku dapatkan. Berawal dari teguran, hingga kini dorongan dan semangat dari para pegawai yang membimbing kami tidak hanya dalam bentuk disiplin, tetapi juga ibadah, perlahan-lahan mencerahkan hati dan pikiranku. Hingga diam-diam, di tempat paling senyap, hatiku seolah berkata, “Aku akan berubah. Langkah perubahan itu akan aku mulai dari balik jeruji besi ini.”.
Aku selalu berusaha mengisi kepalaku dengan kalimat-kalimat positif, kalimat baik yang mampu menenangkan dan meredakan segala kebisingan. Aku berharap, perubahanku membawa keuntungan, menarik energi positif yang mampu mengiringi langkahku kembali menjadi kepercayaan keluarga. Aku upayakan perubahan itu, Aku coba realisasikan segala harapan dan doaku. Saat ini, hanya satu pintaku untuk dapat melalui ini, permintaan yang aku rapalkan dalam doa paling rahasia, “Tegarkan diriku, Ya Allah.”