Penulis: Agustina
Dalam proses menjadi dewasa, salah satu yang menjadi refleksi saya adalah keputusan memilih pasangan. Saya selalu berpikir, bahwa pasangan adalah satu-satunya orang terpercaya yang akan selalu menemani dalam segala situasi. Semua angan itu sirna, ketika masalah mulai menghampiri. Dia yang saya sebut suami, meninggalkan saya tanpa kata, meninggalkan saya yang sempat hilang arah. Dia menghilang, tidak pernah sekalipun memberi kabar hingga saat ini.
Awalnya saya merasa tidak terima, menangis sudah jadi teman sehari-hari, hingga batin menjerit tidak sudah, merasa betapa hidup tidak adil. Namun, lama-lama, saya belajar untuk lapang dada, mencoba untuk berteman dengan keadaan. Benar kata orang, waktu adalah obat tidak kasat mata yang membantu seseorang sembuh dari sebuah luka.
Saat ini, saya memutuskan untuk fokus pada diri sendiri. Saya percaya, apapun yang saat ini hilang dari genggaman saya, apapun yang terlepas dari dekapan saya, akan digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi. Saya yakin, Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya, dan selagi kita yakin Allah bersama kita, semua akan baik-baik saja.